Senin, 10 September 2012

Catatan dari Olimpiade Catur Istanbul 2012


Tim Putri Juara Grup C dan Peringkat 24 Dunia

Sebagai kapten tim saya dan pelatih Ruslan
Scherbakov mewakili regu putri Indonesia
yang harus kembali duluan karena acara PON
menerima Piala Juara Grup C di atas
Meksiko dan Venezuela.
Hanya satu kata, kami bangga padamu srikandi-srikandi kecil catur Indonesia: Medina Warda Aulia, 15; Chelsie Monica Sihite, 16; Dewi AA Citra, 18; Aay Aisyah Anisa, 14; dan Ummi Fisabilillah, 12 tahun!

Datang ke Istanbul sebagai unggulan ke-54, dan hadir tanpa pecatur nomor satu Indonesia GMW Irene Kharisma Sukandar, 20, yang tidak diijinkan perkuat Indonesia oleh KONI Jabar karena harus konsentrasi ke PON, kalian seperti terlecut tampil “kesetanan” membungkam tim-tim catur kuat dunia.

Pada babak terakhir berhadapan lawan tim Yunani yang merupakan unggulan ke-18 yang diperkuat MI Yelena Dembo (2457), GMW Anna-Maria Botsari (2336), MIW Ekaterini Fakhiridou (2215), dan MIW Ekaterini Pavlidou (2237); tim srikandi kecil Indonesia yang turun dengan susunan MFW Medina Warda Aulia (2218), MIW Chelsie Monica Sihite (2143), MFW Dewi AA Citra (2143) dan Ummi Fisabilillah yang belum memiliki rating internasional, yang artinya tim Indonesia di atas kertas “harus” kalah 0-4 dan kembali ke peringkat seperti dua tahun lalu pada Olimpiade Catur Khanty-Mansyisk 2010, justru memporak-porandakan perhitungan matematis dan berbagai prakiraan itu.

Ummi yang kurang pengalaman memang tak berdaya melawan Pavlidou. Namun skor 0-1 duluan ini memang sudah diperkirakan oleh pelatih Ruslan Scherbakov. “Kita akan kalah duluan, 0-1, karena itu kamu Chelsie yang memegang buah putih, harus mampu terus unggul agar irama dan suasana tim tetap positif dan penuh harapan,” ucap Ruslan di kamar 556 Radisson Blu Hotel yang ditempati Chelsie dan Medina, pada malam sehari sebelumnya.

Chelsie yang duduk online di depan laptop dan baru saja melihat pairing yang keluar di situs resmi panitia, berpikir sejenak lalu berkata dengan cepat: “Lets do it.” Maka persiapan akhir berupa bagaimana mengantisipasi pembukaan dan pertahanan lawan pun dilakukan menggunakan software dan database catur yang mutkahir.

 Chelsie, gadis putih manis yang sering salah urutan langkah persiapan itu ternyata menepati janjinya. Dialah satu-satunya dari empat partai yang dimainkan dimana tim Indonesia unggul. Chelsie mengurung, menekan dan mengunci setiap gerak buah lawan.

Partai Yelena vs Medina berlangsung keras dan penuh komplikasi. Sempat tertekan, menetralisir dan balik menekan, lalu kembali berkembang liar. Ofisial tentu saja deg-degan terus. Penonton siaran live di Indonesia, tentu merasakan hal yang sama. Partai Fakhiridou vs Citra juga demikian, di pembukaan Citra yang pegang hitam tampak pasif dan tertekan.

Namun Medina, 15 tahun, yang dipercaya duduk di papan satu, membalas kepercayaan yang diberikan kapten dan pelatih. Tititk lemah Medina yang jika kalah, akan kalah besoknya dan besoknya lagi, tidak terjadi di Istanbul. Kalimat “fighting Jung Tae Woo” dan “fighting Sandy” yang diambil dari buku Summer in Seoul karya Ilana Tan yang kami baca selama “41 hari Tur ke Eropa”, mampu membuat Medina tersentak dan bangkit ke mood aslinya lagi!

Langkah 42...g5! yang dimainkan Medina adalah langkah Grandmaster yang membuat Yelena yang bergelar MI putra itupun menyadari bahwa gadis murah senyum di depannya itu bukanlah anak sembarangan. Segala strategi dan taktik yang ia gunakan, semuanya terbaca dan bahkan dibalas dengan sama baiknya. Yelena pun langsung menyerah. Skor 1-1!

Chelsie tampil tanpa cacat. Kali ini semua langkah-langkahnya sempurna. Langkah 33.Ga5 adalah juga langkah Grandmaster. Ia mau merangkai posisi zugzwang (jalan apapun salah) ketika bidak dan perwira masih banyak di atas papan. Bagaimana itu bisa terjadi? Hanya Grandmaster yang biasa mampu melakukan itu. Botsari terus terus bertahan. Namun pada langkah ke-49 ia pun menyerah. Skor sekarang 2-1 untuk INA.

Hasil seri di tangan ini sudah memastikan tugas yang dibebankan Ketua Umum PB Percasi Hashim Djojohadikusumo untuk memperbaiki peringkat dari Olimpiade Khanty-Mansyisk 2010 yang ranking 43 sudah pasti akan tercapai. Tapi seberapa banyakkah kenaikkan yang dapat dipersembahkan untuk Ibu Pertiwi Indonesia?

Posisi Citra sudah berbalik dari tertekan menjadi unggul karena menang kualitas di mana Bentengnya berhasil ditukar dengan Gajah dan Kuda lawan. Kemudian gadis yang pantas jadi fotomodel ini bermain aman. Bahkan aman sekali, yang membuat para ofisial yakin, Indonesia akan membuat kejutan, akan membalikkan segala prakiraan matematis.

Kejutan itu terjadi ketika Fakhiridou akhirnya menyerah pada langkah ke-58 setelah melihat segala komplikasi yang coba ia ciptakan mampu diredam oleh Citra. Saking senangnya Citra cepat-cepat menandatangani scoresheet dan langsung berdiri meninggalkan kursi pertandingan. Wasit yang baru mau memberikan kertas tembusan notasi tak mampu lagi menemukan sang “gadis fotomodel” itu. Skor akhir pun ditempel: 3-1 untuk Indonesia!

Kita mengalahkan tim yang peringkatnya tiga puluh enam di atas tim Indonesia. Dan dengan skor yang sangat meyakinkan pula. Bravo tim putri Indonesia! Pak Ketua Umum, kami berhasil memperbaiki peringkat! Dan tidak tanggung-tanggung, kami naik sembilan belas peringkat, atau kini bertengger di peringkat 24 dunia dari 127 tim atau dari 124 negara!

Dan pada kalian srikandi-srikandi kecil catur Indonesia, hanya satu kata yang kami punya, kami bangga padamu! Kami sungguh bangga padamu! Teruslah melangkah, kalian akan menjadi pecatur hebat dunia. Jangan berhenti, teruslah melangkah...


3 komentar:

Adjie Gumarang Pujakelana mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Adjie Gumarang Pujakelana mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Adjie Gumarang Pujakelana mengatakan...

Hebat, terimakasih kepada Medina dkk, official, dan pelatih atas kerja kerasnya!